Perkembangan Internet Dunia 2008-2009
Dari data Internet World Stats, dalam satu dasawarsa terakhir jumlah pengguna internet (netter) di dunia meningkat drastis. Dari 0.4% pengguna dari seluruh penduduk dunia, kini naik hampir 60 kali lipat di tahun 2008. Dan sejak tahun 2000, pertumbuhan netter dunia naik rata-rata 2% terhadap total populasi dunia. Dari 1.5 miliar netter saat ini, 41% berada di Asia, kemudian diikuti Eropa 25% disusul Amerika Utara 16%. Dan Afrika menjadi benua dengan tingkat netter terkecil di dunia yakni hanya 5.6%. Dan berikut ini adalah statistik lengkap penggunaan internet di dunia :
Email
* 1,3 miliar – Jumlah pengguna email di seluruh dunia.
* 210 miliar – Jumlah email yang dikirim per hari pada 2008.
* 70% – Persentase email yang spam.
* 53,8 triliun – Jumlah spam email yang dikirim pada 2008 (asumsi 70% adalah spam).
Website
* 186.727.854 – Jumlah website di Internet pada bulan Desember 2008.
* 31,5 juta – Jumlah website ditambahkan selama 2008.
Web server
* 24,4% – Pertumbuhan situs Web Apache pada 2008.
* 13,7% – Pertumbuhan IIS website pada 2008.
* 22,2% – Pertumbuhan GFE website Google pada 2008.
* 336,8% – Pertumbuhan Nginx website di tahun 2008.
* 100,3% – Pertumbuhan Lighttpd website di tahun 2008.
Nama domain
* 77,5 juta -. COM nama domain pada akhir 2008.
* 11,8 juta -. NET nama domain pada akhir 2008.
* 7,2 juta -. ORG nama domain pada akhir 2008.
* 174 juta – Jumlah seluruh nama domain top-level domain.
* 19% – Peningkatan jumlah nama domain pada 2008./
Pengguna Internet
* 1463632361 – Jumlah pengguna Internet di seluruh dunia (Juni 2008).
* 578.538.257 – pengguna Internet di Asia.
* 384.633.765 – pengguna Internet di Eropa.
* 248241969 – pengguna Internet di Amerika Utara.
* 139009209 – pengguna Internet di Amerika Latin / Karibia.
* 51.065.630 – pengguna Internet di Afrika.
* 41939200 – pengguna Internet di Timur Tengah.
* 20204331 – pengguna Internet di Oseania / Australia.
Blog
* 133 juta – Jumlah blog di Internet (seperti dilacak oleh Technorati).
* 900.000 – Jumlah posting blog baru dalam satu hari.
* 329 juta – Jumlah posting blog pada 2008.
Sedangkan mengenai jaringan internet saat ini sedang berkembang teknologi HSDPA atau High Speed Downlink Packet Access merupakan teknologi yang berjalan pada platform 3G pada channel baru yang disebut High Speed Downlink Shared Channel (HS-DSCH). Dengan HDSPA, kecepatan downlink secara teori dapat mencapai 3,6 Mbps bandingkan dengan 3G yang ‘hanya’ mencapai 384 Kbps. Karena masih berjalan pada platform 3G namun dengan kecepatan melampaui kecepatan 3G standar maka teknologi ini disebut juga sebagai 3,5G. Sebenernya perkembangan teknologi HSDPA pada 3G hampir mirip dengan perkembangan teknologi EDGE atau Enhanced GPRS (EGPRS) pada GPRS. Perlu diketahui, EDGE memiliki kecepatan downlink mencapai 236 Kbps, cukup cepat jika dibandingkan dengan GPRS standar yang memiliki kecepatan sekitar 50 Kbps. Karena hal tersebut pula teknologi EDGE atau EGPRS juga dikenal dengan nama teknologi 2,75G.
Setelah lebih dari 1 tahun peluncuran layanan 3G komersil di Indonesia oleh beberapa operator seluler tanah air, ternyata layanan ini belum maksimal pemanfaatannya. Belum banyak masyarakat indonesia yang ‘mencicipi’ berbagai layanan 3G yang tersedia seperti video call, download content, high speed internet access, dll. Dari sedikit pengguna layanan 3G sebagian besar merupakan orang yang paham teknologi, saya yakin bahwa seseorang yang pernah menggunakan layanan 3G, orang tersebut merupakan pengguna internet aktif. Namun, belum banyaknya pengguna layanan 3G, bukan berarti layanan tersebut tidak berhasil di Indonesia, masih butuh waktu untuk melakukan edukasi terhadap masyarakat terhadap teknologi 3G ini. Tentunya untuk meningkatkan penggunaan 3G di masyarakat, saya rasa operator sebagai penyedia layanan 3G perlu meningkatkan content mereka dan juga yang cukup penting adalah menyesuaikan tarif layanan 3G sehingga cukup mudah dijangkau semua kalangan masyarakat terutama masyarakat umum.
Investasi 3G oleh operator seluler merupakan investasi yang cukup mahal, konon untuk mendapatkan alokasi frekuensi 3G di Indonesia, operator harus merogoh koceknya sekitar ratusan miliar rupiah, belum lagi infrastruktur yang harus dibangun untuk jaringan 3G tersebut. Teknologi HSDPA yang masih saudara dengan 3G bejalan pada jaringan 3G sehingga tidak perlu lagi mengeluarkan dana yang besar untuk mengimplementasikan teknologi tersebut, itulah mengapa operator seluler juga mendukung teknologi HSDPA begitu teknologi ini diperkenalkan dan tidak lama setelah layanan 3G berjalan. HSDPA menawarkan layanan dengan kecepatan cukup tinggi, ibarat jalan tol, akses internet serasa tidak memiliki hambatan apapun. Dengan kecepatan mencapai 3,5 Kbps bahkan bisa ditingkatkan menjadi puluhan Kbps, kita dapat mengakses berbagai informasi diseluruh dunia melalui internet dan semakin membuat flat dunia kita. Sekarang tinggal manusianya sebagai pengguna teknologi 3G atau HSDPA apakah akan menggunakan teknologi tersebut untuk kemaslahatan atau untuk kehancuran umat manusia.
Perkembangan Internet Indonesia
Menurut www.wikipedia.org.id, sejarah internet Indonesia dimulai pada awal tahun 1990-an. Saat itu jaringan internet di Indonesia lebih dikenal sebagai paguyuban network, dimana semangat kerjasama, kekeluargaan & gotong royong sangat hangat dan terasa diantara para pelakunya. Agak berbeda dengan suasana Internet Indonesia pada perkembangannya kemudian yang terasa lebih komersial dan individual di sebagian aktivitasnya, terutama yang melibatkan perdagangan Internet. Sejak 1988, ada pengguna awal Internet di Indonesia yang memanfaatkan CIX (Inggris) dan Compuserve (AS) untuk mengakses internet
Di sekitar tahun 1994 mulai beroperasi IndoNet yang dipimpin oleh Sanjaya. IndoNet merupakan ISP komersial pertama Indonesia. Pada waktu itu pihak POSTEL belum mengetahui tentang celah-celah bisnis Internet & masih sedikit sekali pengguna Internet di Indonesia. Sambungan awal ke Internet dilakukan menggunakan dial-up oleh IndoNet, sebuah langkah yang cukup nekat barangkali. Lokasi IndoNet masih di daerah Rawamangun di kompleks dosen UI, kebetulan ayah Sanjaya adalah dosen UI. Akses awal di IndoNet mula-mula memakai mode teks dengan shell account, browser lynx dan email client pine pada server AIX.
Mulai 1995 beberapa BBS di Indonesia seperti Clarissa menyediakan jasa akses Telnet ke luar negeri. Dengan memakai remote browser Lynx di AS, maka pemakai Internet di Indonesia bisa akses Internet (HTTP).
Pada tahun 2009 berdasarkan perhitungan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di Indonesia terdapat sekitar 25 juta pengguna internet. Pengguna yang memanfaatkan internet di kafe atau warung internet (warnet) paling tinggi, yaitu sebesar 60 persen. Sedangkan pengguna yang memanfaatkan internet di kantor sebesar 20,4 persen, di kampus dan sekolah 10 persen, dan pengguna internet di rumah hanya sebesar 0,4 persen, pertumbuhan pengguna situs yang berakhiran “.id” tumbuh sekitar 53 persen per tahun dalam kurun waktu antara tahun 1998-2006. Pada tahun 2008 tercatat ada lebih dari 70 ribu situs, sementara tahun 2009 diperkirakan ada tambahan lima ribu pengguna baru. Jumlah “blogger” (pengguna `blog` di internet) di Indonesia juga mengalami peningkatan. Semula, jumlah `blogger` tahun 2007 hanya berjumlah 130.000 orang, kemudian tahun 2008 menjadi 600 ribu `blogger`, dan meningkat menjadi 1.2 juta `blogger` pada tahun 2009.
Sedangkan, pengguna Internet di Indonesia diperkirakan mencapai 57,8 juta pada 2010, seiring meningkatnya pemakaian layanan tersebut melalui teknologi pita lebar jaringan seluler.seperti yang diproyeksikan Telkomsel yang saat ini telah memiliki 49 juta pelanggan seluler. Penggunaan Internet diperkirakan akan melonjak seiring meningkatnya jumlah pelanggan seluler yang diproyeksi menjadi 120 juta di 2010. Hal ini dikarenakan operator seluler semakin gencar membangun infrastruktur jaringan layanan komunikasi data dan suara berbasis teknologi 3G dan HSDPA.
Perkembangan terakhir yang perlu diperhitungkan adalah trend ke arah e-commerce dan warung internet yang satu & lainnya saling menunjang membuahkan masyarakat Indonesia yang lebih solid di dunia informasi. Rekan-rekan e-commerce membangun komunitasnya di beberapa mailing list utama seperti warta-e-commerce@egroups.com, mastel-e-commerce@egroups.com, e-commerce@itb.ac.id & i2bc@egroups.com.
Desember 2008, Yahoo! dan Nielsen Online menemukan indikasi bahwa pasar online advertising market akan terus berkembang dari sekitar US$ 26,5 juta di tahun 2007 diperkirakan mencapai US$ 41,9 juta pada tahun 2010.
Tetapi, pengguna belanje online atau e-commerce di Indonesia masih terglong rendah. Riset Nielsen mengungkapkan penduduk Indonesia paling jarang melakukan transaksi pembelian barang lewat Internet dibandingkan dengan negara lain di Asia Pasifik. Rendahnya frekuensi berbelanja lewat Internet di Indonesia, dipicu keraguan masyarakat untuk melakukannya. Penduduk Indonesia masih ragu berbelanja lewat Internet, isu [keamanan] pembayaran lewat kartu kredit [yang mendominasi cara pembayaran belanja lewat Internet] menjadi kendala utama.
Dari survei Nielsen terhadap 511 pengguna Internet di Indonesia atau 7.500 orang di Asia Pasifik menunjukkan persentase belanja lewat Internet di Indonesia lebih rendah dari rata-rata Asia Pasifik. Di Indonesia hanya 51% responden yang menyatakan pernah berbelanja lewat Internet, sedangkan rata-rata di Asia Pasifik telah mencapai 84%. Sementara itu dalam satu bulan terakhir hanya 23% pengguna Internet di Indonesia yang melakukan transaksi, sedangkan rata-rata Asia Pasifik mencapai 57%. Jenis barang yang banyak dibeli pengguna Internet di Indonesia adalah buku, pakaian dan aksesoris, elektronik (seperti TV dan kamera), komputer dan perangkatnya, kosmetik dan suplemen, mainan, dan peralatan olahraga serta suku cadang kendaraan.
Khusus untuk produk kebutuhan sehari-hari, hanya 1% pengguna Internet di Indonesia yang menggunakan akses Internet, sementara di Asia pasifik sudah mencapai 26%.
Meskipun tingkat belanja melalui Internet di Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan negara lain, namun terus terjadi pertumbuhan transaksi. Dari hasil riset Nielsen menunjukkan sebenarnya responden di Indonesia lebih sering menggunakan komputer dibandingkan dengan negara lain, tetapi untuk keperluan sosial seperti mengirim surat via e-mail, membaca blogs, dan melakukan chatting.
Sumber :
• www.wikipedia.org.id
• www.bisnis.com
• www.tempo-interaktif.com
• www.detiknet.com
• www.indonesia.go.id
• http://nusantaranews.wordpress.com/2009/02/28/daftar-jumlah-pengguna-internet-dunia-1995-2008/
• http://warnadunia.com/statistik-lengkap-dan-detail-perkembangan-internet-tahun-2008/
• irpan.csui02.net/blog/2007/03/23/teknologi-3g-dan-hsdpa/ – 39k